Muhasabah Akhir Tahun



Bulan Dzulhijjah adalah bulan terakhir dalam sistem penanggalan Hijriah atau bulan keduabelas. Sebentar lagi kita pun akan memasuki bulan baru dan tahun baru Hijriah, yakni bulan Muharram 1442H. 

Begitu banyak perihal kegiatan yang telah terjadi dimasa tahun 2020 lalu. Berbagai bencana, mulai dari kebakaran hutan di Australia dan California hingga ledakan dahsyat di Pelabuhan Beirut Libanon, Banjir parah di daerah Ibu Kota Jakarta akibat curah hujan tinggi, Erupsi Gunung Taal di Filipina, Banjir Asia Pasifik di sejumlah negara korea selatan, korea utara, jepang, China, Angin Topan Maysak-Haishen mulai dari Filipina, Vetnam, Jepang, India, Korea Utara, Korea Selatan, Bangladesh, China, hingga Amerika Serikat, dan bencana alam tersebut tercatat 2676 yang terjadi sepanjang 2020 oleh BNPB. Tak hanya itu, peristiwa pandemic pun terjadi yang dialami oleh semua belahan dunia ditahun lalu dan masih terasa impact-nya hingga saat ini. 

Dari itu semua, lalu siapakah yang salah? 
Bagaimanakah itu semua bisa benar terjadi yang begitu banyak mengorbankan nyawa manusia dan umat? 
Adakah yang bisa kita salahkan? Akankah dibiarkan begitu saja?

Muhasabah Akhir Tahun

Pahami dan Renungi!

Teman-teman semua, pahami bahwa itu adalah ujian, ujian yang Allah turunkan agar meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah, Ujian yang menjadikan diri kita agar lebih semangat dalam beribadah dan menjadikan diri kita lebih care terhadap sesama. Oleh karenanya tidak ada salahnya kita terus melakukan muhasabah, yakni introspeksi diri atas apa yang kita lakukan, sehingga dapat menjadi pijakan kita dalam melangkah tahun-tahun berikutnya.

Dalam rangka hal tersebut, kiranya pantas kita mengingat kembali pesan Sayyidina Ali karramallahu wajhah, sebagaimana termaktub dalam kitab Nashaihul Ibad karya Ibnu Hajar al-Asqalani:

كُنْ عِنْدَ اللهِ خَيْرَ النَّاسِ وَكُنْ عِنْدَ النَّفْسِ شَرَّ النَّاسِ وَكُنْ عِنْدَ النَّاسِ رَجُلاً مِنَ النَّاسِ  

 “Jadilah manusia yang paling baik di sisi Allah, dan jadilah manusia yang paling jelek dalam pandangan dirimu, serta jadilah manusia biasa di hadapan orang lain.”

Pesan ini memberikan arahan yang sangat luar biasa bagi umat Islam dalam mengarungi kehidupan dunia, demi memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. 

Pertama, kita diharapkan terus meningkatkan ketakwaan dan amal kebaikan di hadapan Allah subhanahu wata‘ala. Menjalankan perintah-Nya dan sedapat mungkin menjauhi apa yang menjadi pantangan atau larangan dalam kehidupan sesuai dengan tuntunan agama. Sehingga kita bisa menjadi manusia yang baik di sisi-Nya.

Kedua, kita harus merasa kurang atas amal kebaikan yang kita lakukan dengan terus merasa diri kita jelek. Hal ini bukan berarti merendahkan diri, namun untuk menjauhkan kita dari sikap ujub (sombong), riya (pamer), dan sum’ah (mengharap pujian orang lain). 

Ketiga, kita harus menundukkan diri di hadapan orang lain dengan tidak merasa lebih baik. Mungkin banyak di antara kita ketika melihat orang lain, merasa dirinya lebih baik atau lebih mulia. 

Saya teringat sebuah kisah nyata, dibeberapa waktu lalu saya melihat sebuah video di media sosial. Suatu hari seorang mahasiswa kepada Dr. Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi, dia berkata: Saya seorang mahasiswa di kuliah ekonomi. Saya tidak ingin bermaksiat kepada Allah. Akan tetapi lingkungan dan teman-teman saya seringkali menjerumuskan saya pada kemaksiatan.  Apa yang harus saya lakukan Syaikh?

Dia curhat dan meminta tolong kepada ku, aku berkata padanya: Curahan kesahmu dan curhatan yang kau ceritakan  padaku saat ini, ceritakanlah semuanya tapi bukan kepadaku. Aku manusia yang lemah sama seperti dirimu. Ceritakanlah semua itu kepada tuhan dan penciptamu hanya antara dirimu dan Allah. Ceritakan bukan hanya sekali atau duakali saja, tapi lakukanlah secara terus menerus, Katakanlah kepadaNya: Yaa Allah janganlah kau tinggalkan aku berjuang sendirian melawan hawa nafsu dan setan. Siapa yang akan menolongku jika engkau membiarkanku terus menerus seperti ini. Curhatlah kepadanya, katakan kepadanya. Jika seperti itu Allah pasti akan menyelamatkanmu dan melindungimu.

Dari kisah tersebut, sungguh mulia akhlaq seorang syaikh. Instrospeksi diri bukan hanya dilakukan sekali, namun harus menjadi bagian yang tertanam dalam kehidupan kita sehari-hari. Muhasabah adalah cara mengendalikan hidup kita, yang akan memiliki efek luar biasa pada diri kita, keluarga, dan lebih luas lagi pada masyarakat. 

Keteledoran kita untuk melakukan introspeksi bukan hanya dapat mengakibatkan kerusakan pada kehidupan kita, tetapi juga kehidupan yang lebih luas yakni keluarga dan masyarakat.  Rasulullah SAW bersabda:

 اَلْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ (رواه أحمد)  

“Orang yang cerdas (sukses) adalah orang yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri, serta beramal untuk kehidupan sesudah kematiannya. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah” (HR Ahmad).

Pahami dan Renungi!
Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang mampu terus introspeksi dan berbenah diri. Sehingga kita mampu menjadi penyokong tumbuhnya keluarga dan masyarakat yang baik menuju baldatunn thayyibatunn warabbun ghafuur. 

Muhasabah Akhir Tahun

#bismillah
#alhamdulillah
#muhasabahdiri
#2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mungkin Kita Pernah Kecewa?

Jargon Daarut Tauhiid

Pemain Negeri 5 Menara