Gagal Fokus

Tulisan ini saya ambil dari seorang anak remaja yang saat itu masih duduk dikelas 3 jenjang menengah pertama di salah satu Sekolah Negeri Tsanawiyah Kuningan, Jawa Barat. 

Ini luarbiasa, mudah-mudahan kita bisa terus berkarya. Teringat sebuah kata bijak dari seorang ulama besar yaitu “Jika Kamu Bukan Anak Seorang Raja, Bukan Juga Anak Seorang Ulama Besar Maka: Menulislah“.  Imam Al Ghazali

Cerita pendek ini berjudul: Gagal Fokus

(Freepik.com)

        Ini aku, bagian terakhir dari tiga putra ayah dan ibuku. Dua putranya yang lain adalah Kak Winda sebagai kakak sulungku yang kini telah menemukan pasangan hidupnya dan Kak Ray sebagai kakak terakhirku yang kini sedang menghimpun pengalaman menjadi seorang pelaksana tugas. 

Di tengah udara panas dalam teriknya matahari kemarau, beremus kencang angin bertabur pasir yang membuat kelenjar keringat tak berhenti bekerja, hingga kemudian  terdengar suara seseorang dari dalam rumah yang kami tinggali bersama, 

“Defina, ayo makan siang dulu! Ngerjain PR-nya nanti dilanjutin lagi, sekarang waktunya makan, kamu kan lagi kurang enak badan katanya.” Ajak ibuku.

“Iya bu, aku juga barusan udah makan sama nasi goreng.” Jawabku.

Seketika itu, Kak Ray lewat sambil bertanya, “memangnya lagi ngerjain PR apaan sih? Kayak pusing banget.” Tanyanya padaku.

“Ini kak, ada tugas dari guru bahasa Indonesia supaya bikin cerpen dari pengalaman sendiri.” 

“oohh… itu sih mudah, kita tinggal menceritakan pengalaman sendiri yang paling berkesan, dan dikemas dengan gaya bahasa unik agar menarik. Selain itu, usahakan kalimatnya sama dengan yang terjadi seperti kehidupan sehari hari kita, agar terkesan alami.” Jelasnya padaku.

“iya kak, ini juga baru aja selesai”. Tempasku dengan penuh keraguan karena takut jikalau cerpen yang aku buat tidak nyambung.

“Coba bacain cerpennya, barangkali kakak bisa mengkoreksinya.” Sahutnya dengan rasa penasaran untuk membantu.

“Ooh.., oke kalo begitu, aku bacain sekarang ya…” jawabku dengan rasa bahagia.

Akhirnya, saat itu aku pun membacakan cerpen karanganku padanya. 

Setelah selesai membacakan cerpen, kemudian Kak Ray mengatakan bahwa cerpen karanganku cukup baik, hanya ada beberapa kesalahan saja yang katanya itu kesalahan kecil yang sifatnya wajar menjangkiti anak-anak seusiaku dalam membuat sebuah karangan. Tapi dia berkata, jika guruku menilai buruk cerpenku dia minta maaf karena memang Kak Ray bukanlah seorang guru Bahasa Indonesia.

Untuk itu, aku akan berbagi kisah dari cerpen yang aku buat, dengan judul yang sama yaitu, GAGAL FOKUS.

Kala itu, disaat aku  memakai baju merah putih, disaat semuanya belum terjadi hingga kini, disaat Kak Winda masih memakai almamater UPI, dan disaat A Ray masih bersekolah di bangku SMA kelas dua belas. 

Paginya, aku siap siap berangkat ke sekolah untuk mengikuti ulangan kenaikan kelas. Rasanya sangat berdebar debar karena ini merupakan penentuan untuk menyatakan siswa naik kelas atau tetap tinggal di kelas saat itu.

“Ibu, do’ain aku ya, mudah mudahan nanti aku bisa mengerjakan soal dan diberi kemudahan oleh Allah sehingga mendapat hasil yang memuaskan.” Harapku sambil berpamitan pada ibuku.

“Iya, ibu juga selalu mendo’akan yang terbaik untukmu, supaya menjadi anak yang shalihah dan sukses.”

“Aamiin.. aku berangkat dulu ya bu, Assalamualaikum..” ucapku berpamitan.

Satu minggu pun berlalu, dan kini saatnya berdebar untuk menunggu diumumkannya hasil belajarku selama setahun. Ketika ibu guru wali kelas membagikan satu persatu buku raport dengan memanggil nama siswa, hatiku semakin berdebar-debar, hingga akhirnya namaku terpanggil. Aku pun berjalan menghampiri buku raport itu dan mengambilnya dengan penuh rasa penasaran sekaligus takut. Dan saat buku raport diterima oleh tanganku, aku membukanya dengan penuh ketakutan dan rasa penasaran.  Akhirnya, setelah membuka dan melihat penilaian hasil belajarku, aku bahagia karena hasilnya tak mengecewakan. Aku pun dengan penuh rasa syukur membawa buku raport itu pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, aku langsung memberitahukan apa yang aku terima di sekolah tadi. Pada hari itu bersamaan juga dengan Kak Ray yang sudah dinyatakan lulus sebagai pelajar SMA, yang kini mampu melanjutkan kuliah. Kedua orang tuaku dan Kak Ray pun seketika langsung bahagia mendengar berita yang aku bawa dari sekolah. Tidak lupa dengan ayah ibuku dan aku yang merasa bahagia juga atas kelulusan Kak Ray.

Seperti biasanya, jika buku raport sudah dibagikan, pasti setelahnya adalah waktu untuk menikmati libur panjang, dengan liburan bersama keluarga. 

“Sekarang kan udah waktunya liburan, liburan tahun ini kita mau ngapain nih?” kata ayahku pada kami. 

Aku pun teringat dengan Kak Winda yang kala itu sedang menge-kos di Bandung dalam kegiatannya sebagai salah satu mahasiswi MIPA di UPI. Sehingga aku pun mengusulkan,

“Bagaimana kalau liburan kali ini kita pergi ke Bandung? karena aku juga udah terlalu kangen sama Kak Winda.”.

“Oh iya kamu bener juga, Kak Winda kan udah lama belum pulang ke Kuningan, udah hampir empat bulan juga.” Sahut Kak Ray menyetujui pendapatku.

“Kalo ibu si yaaa, ikut aja deh terserah gimana kalian, yang penting semua ikut liburan, termasuk Kak Winda juga. Semoga aja disana dia gak lagi banyak tugas, jadi kita semua bisa enjoy. Ya kan yah?” Sahut ibuku sekaligus meminta persetujuan ayah.

“Ide bagus! Tentu saja iya, ayah sangat setuju dengan itu!”

Setelah keputusan berakhir, Kak Ray menelepon Kak Winda untuk mengkonfirmasinya, bahwa kami punya rencana untuk pergi ke Bandung.

“Assalamualaikum, Kakak lagi sibuk ga sekarang-sekarang ini?”

“Oh.. buat minggu sekarang si kayanya ga terlalu sibuk, karena minggu kemaren baru aja udah praktikum. Gimana emangnya?”

“Ini Kak, kita disini punya rencana mau liburan di Bandung lusa nanti, kira-kira kakak bisa ga,?”

“Oh.. boleh juga tuh! Kakak juga udah lama ga ketemu sama kalian, udah terlalu rindu jadinya hehe...”

“Oke, berarti bisa ya,? Insya Allah nanti kita kesana lusa. Assalamualaikum.”

“Iya, Waalaikumusalam. Hati-hati ya..” pungkas Kak Winda mengakhiri obrolan.

Kemudian paginya kami siap-siap untuk pergi ke Bandung. Ibuku mempersiapkan pakaian yang akan dibawa, perbekalan makan dan minuman serta alat-alat yang akan dibawa. Sedangkan ayahku mempersiapkan mobil yang akan digunakan pergi ke Bandung agar dalam keadaan baik dan siap melakukan perjalanan jauh. Adapun aku dan Kak Ray hanya sibuk memikirkan apa yang akan dilakukan disana dengan penuh khayalan dan tak sabar menunggu hari esok, sampai-sampai malam harinya aku susah untuk tidur hanya karena mengkhayalkan hari yang ditunggu-tunggu.

Hari yang dinantikan pun tiba. Kami menaikkan barang barang ke mobil dan siap memulai perjalanan.

“Semuanya sudah siap? Sabuk sudah dipakai? Kalau sudah, mari kita berangkat!” Ucap ayahku dengan penuh semangat.

“Oke, semuanya sudah yah!”

“Bismillahir rahmanir rahim.” Kami pun berangkat ke Bandung sekitar pukul empat waktu shubuh.

Ditengah perjalanan, tidak terlewat canda tawa terus bergulir menambah indah rasa hatiku saat itu. Dan suatu ketika, setelah kurang lebih tiga jam perjalanan, aku merasa ingin buang air kecil.

“Yah, aku ingin buang air kecil nih, kita berhenti dulu ya di rest area? Sekalian aku juga pengen istirahat dulu.” ujarku meminta pada ayah.

“Oh.. kebetulan tuh di depan ada rest area! Pas banget!” tempas ayahku.

Aku pun bergegas turun dari mobil sendiri, sekaligus diantar ibu di belakang yang mengawasiku menuju WC karena sudah tak tahan.  Aku pun masuk WC perempuan dan ketika aku keluar, aku kaget karena ada seorang bapak-bapak yang berdiri di depan pintu sambil berkata,

“Neng lagi apa di sini? Ini kan WC laki-laki, WC perempuan ada di sebelah barat. Memangnya ga liat tandanya?” tegur sang bapak itu dengan nada sedikit naik.

Aku pun kaget tak bicara apa-apa, dan seketika ibuku ada di depanku dan berujar,

“Defina! Tadi ibu panggil panggil kok gak nyahut? Ibu kan ngasih tau kamu, kalau WC perempuan itu ada di barat, tapi kamu terus jalan aja. Dan lagian, emang kamu ga liat disini kan ada tandanya.” Ibuku menegur sambil sedikit menahan tawa atas tingkahku.

“Aku tadi buru-buru bu. Padahal tadi aku liat tandanya, dan tandanya nunjukin kalo ini tuh emang WC perempuan. Tapi kenapa sekarang bisa berubah jadi WC laki-laki?” Aku menjawab dengan malu sekaligus heran dengan apa yang baru saja terjadi. Aku dan ibuku pun kembali ke mobil, namun sebelum berangkat kami membuka perbekalan terlebih dahulu, karena perut kami sudah melantunkan irama sejak tadi.

Kami melanjutkan perjalanan dan sampai di Bandung pada pukul sepuluh lewat tiga puluh menit. Disana kami langsung disambut oleh ibu kost yang ramah yang mengajak kami masuk ke rumahnya dengan menyuguhkan aneka hidangan. Dan kata ibu kost, Kak Winda saat ini masih di kampus sehingga belum pulang ke kost-an. Setelah kurang lebih satu jam, terdengar suara ketuk pintu,

“Assalamualaikum..” terdengar suara dari balik pintu. Setelah dibuka ternyata itu adalah Kak Winda yang kembali ke kost-an sambil membawa bolen khas bandung.

“Eh.. ternyata kakak! Udah lama Defina ga ketemu kakak, jadi kangen banget sama omelannya kakak kalau lagi ngajarin matematika, haha.. Tapi kok sekarang kayak lebih chubby sih?” ungkapku dengan penuh kebahagiaan dan sedikit malu karena sudah lama tidak mengobrol. Ayah, ibu dan Kak Ray juga turut menyambut Kak Winda dengan penuh tawa bahagia. 

Setelah sekian lama mengobrol, akhirnya kami tiba di topik mengenai rencana liburan kali ini. Adapun kala itu, kami menginap di Bandung hanya menghabiskan dua malam. 

“Jadi bagaimana? Besok kita pergi ke kebun binatang ya?” Tanya ayah meyakinkan pendapatnya.

“Ayoo.. aku sudah sangat penasaran untuk menyaksikan hewan-hewan dengan asli, karena selama ini, aku hanya dapat melihatnya di gambar televisi.” Ujarku antusias.

“Baiklah, besok kita pergi ke Kebun Binatang. Dan untuk hari ini kita istirahat saja dulu agar bisa memulihkan tenaga untuk besok.” Tumpas Ibu menasehati.

Pagi hari pun tiba, kami siap untuk pergi berangkat ke Kebun Binatang Bandung. Sesampainya disana aku benar-benar bahagia. Aku dapat melihat dengan dekat hewan yang waktu itu hanya bisa aku lihat di layar televisi.

“Waah… lihat itu! Ekor burung meraknya mengembang!sungguh pemandangan yang tepat!” ungkap Kak Winda bahagia.

Disela-sela pandangan melihat aneka hewan, kamera juga tak berhenti memotret untuk dijadikan kenang-kenangan. 

“Lihat ini juga! Ayamnya besar banget, beda sama ayam yang di Kuningan!” Ujar Ibuku keheranan sekaligus antusias.

“Ibu, ayam ini memang beda dengan ayam di Kuningan karena namanya juga berbeda. Ibu ini ada-ada saja.” Jelas Kak Winda

“Memang makhluk ini namanya siapa?” Tanggap ibu dengan sedikit bergaya humor.

  “Nama hewan ini adalah ayam Kalkun.” Jelas Kak Winda

“Ah masa? Ibu kok baru denger ya..” Jawab Ibu dengan terpasang raut kebingungan.

Disisi lain, saat itu aku juga melihat hewan yang kukira buaya namun tenyata bukan.

“Kok buayanya diem aja si? Emangnya mati ya?” tanyaku pada Kak Ray.

“Memangnya ada buaya disini? Yang kamu tunjuk itu namanya bukan buaya, tapi komodo. Untung kamu nanya ke kakak, kalo engga nanti komodonya bisa ngamuk gara-gara gak terima dipanggil buaya sama kamu.” Jawab Kak Ray

“Oh iya benar! Aku pikir itu buaya, ternyata aku salah lihat, hahah..”tempasku sembari tertawa.

Sekejap aku juga agak aneh, baru aja kemaren salah masuk WC, sekarang malah salah lihat hewan.

Setelah menjelajahi Kebun Binatang sekitar setengah hari, akhirnya kami shalat dzuhur di masjid Al-Furqan UPI. Udara sejuk Bandung memang sangat nyaman, berbeda dengan di Kuningan yang selalu membuat tubuh berkeringat. Setelah shalat kami juga tak lupa mengambil gambar sebagai memori, karena memang view masjid dan halamannya cukup menarik, sehingga sayang untuk ditinggalkan.

Kemudian kami makan siang di salah satu rumah makan dekat sana dan dilanjutkan pulang. Sampai di kost-an, kami beristirahat, sedangkan Kak Winda pergi ke kampus untuk menemui temannya sebentar. 

Hari pun berlalu dan tibalah pagi hari yang cerah. 

“Eh.. ibu jadi pengen belanja tuh ke Pasar Baru. Udah lama gak kesana.” Ucap ibuku dengan nada mengajak sekaligus curhat.

“Oh, jadi ibu pengen ke pasar baru? Ya udah nanti aja kalau pulang, mampir dulu ke pasar baru yang ada di Kuningan.” Sahut ayah dengan berlagak humor.

“Bukan pasar baru Kuningan yah…Tapi Pasar baru Bandung.” Tumpas ibu dengan sedikit kesal.

“Iya bu, iya. Boleh kok.” Jawab ayah mengiyakan.

“Kami bertiga sih ikut aja, yang penting jalan-jalan” ujar Kak Ray mewakili aku dan Kak Winda.

Akhirnya kami pun pergi kesana sekitar pukul Sembilan pagi. Saat disana ada kejadian yang cukup lucu, itu bermula dari ibuku yang saat itu kurang lancar dalam menaiki eskalator.

“Defina tungguin ibu dong!” teriak ibu pada seseorang yang ia pegang tangannya sambil menaiki eskalator yang ditakutinya.

“Ibu! Itu bukan Defina, Defina ada di sini bu..” teriak aku yang melihat ibuku menyebrangi eskalator dengan orang asing. Ibuku yang sudah berdiri di lantai bawah pun menoleh dan kaget seraya berkata,

“Hah? Terus ini… aduh kak maaf ya, ibu salah gandeng orang, dikira kakak ini putri ibu.” 

“Iya bu enggak papa.” Jawab kakak itu ramah.

Aku dan Kak Ray pun turut menyebrangi eskalator. Kami pun tertawa mendengar kejadian yang baru saja menimpa ibu, karena rasanya itu pasti sangat malu.

Hari pun dihabiskan di Pasar Baru, dan kami kemudian pulang dengan membawa sejumlah belanjaan.

“Nampaknya harga-harga memang sedang menggila saat ini, karena gak biasanya harga barang barang mencapai angka itu. Harga-harga kali ini benar-benar meningkat lima puluh persen.” Ungkap ibu berlagak seperti seorang pengamat pasar.

“Ya mungkin memang sudah seharusnya begitu, karena kalau harganya tetap bisa jadi penjual gak dapet untung dong.” Jawab ayah dengan wajah yang terlihat seperti ingin tertawa tapi tidak.

Perjalanan pun dipenuhi obrolan canda tawa yang tak kunjung berakhir. Hingga kami sampai ke kost-an dengan perut yang kian lapar meminta sesuatu yang mengenyangkan. Akhirnya Kak Winda memutuskan untuk membeli lauk karena nasi sudah menunggu di meja makan, aku pun ikut dengannya menuju warung nasi di seberang jalan depan kost-an.

Setelah dua hari berlalu, dan dikarenakan bekal pakaian kami sudah habis, membuat waktu liburan nampaknya akan segera berakhir besok hari. Keputusan ini juga diiringi dengan Kak Winda yang mulai aktif kuliah esok hari. Untuk itu, kami mempersiapkan kepulangan ke Kuningan sehari sebelumnya. Meski kala itu aku merasa sedih karena liburan begitu cepat berlalu, namun aku juga tetap bahagia dan bersyukur karena bisa berlibur dengan semua anggota keluarga.

Pagi hari pun tiba dan kami berpamitan pada Kak Winda.

“Kakak hati-hati disini ya, kami pulang dulu, Assalamualaikum.” 

“Iya, Wa’alaikumusalam. Hati-hati juga di jalan, semoga selamat sampai ke Kuningan.”

“Dadah Kak…” ucapku sambil melambaikan tangan.

  Namun kala itu kami tidak berpamitan dengan ibu kost karena kabarnya, beliau sedang pergi ke Buah Batu sejak satu hari yang lalu untuk menjenguk kakaknya.

Kami berangkat dari Bandung menuju Kuningan kurang lebih pukul setengah empat sore setelah waktu shalat ashar. Untuk perjalanan pulang kali ini aku lebih banyak menghabiskan waktu tertidur di mobil. Mungkin ini akibat hari yang terlalul melelahkan. Hingga aku terbangun pada saat waktu mahgrib tiba.

“Defina! Ayo bangun kita shalat maghrib dulu disini.” Seru ibuku mengajak untuk shalat maghrib.

“Memangnya ini kita lagi dimana bu?” tanyaku dengan wajah yang mengantuk.

“Kita lagi di SPBU, shalat maghribnya di masjid SPBU aja karena sekalian mau isi bensin. Ayo nanti waktu maghribnya keburu abis, sekarang udah jam enam dua puluh nih.” Jawab ibuku dengan nada mendesak.

“Iya bu.” Sahutku.

Aku pun turun dari mobil menuju tempat wudhu. Setelah aku selesai shalat, ibuku berkata,

“Defina duluan aja ke mobilnya, ibu  mau ke kamar mandi dulu sebentar.” Ucap ibuku.

“Iya bu, di mobilnya udah ada ayah sama Kak Ray kan?” tanyaku, karena aku takut jika belum ada orang di mobil.

“Iya udah ada, tadi mereka udah shalat duluan soalnya.” Jelas ibuku.

Akupun berjalan menuju ke parkiran mobil dengan rasa mengantuk yang masih menghantui.

“Blak!” suara membuka pintu mobil terdengar. 

Aku pun masuk dengan membawa mukena. Setelah aku duduk di jok mobil, aku merasa ada hal yang aneh sedang terjadi, hingga akhirnya aku pun bergumam,

“Kata ibu, ayah dan Kak Ray sudah ada di mobil, tapi kok gak ada siapa-siapa sih? Eh, ini jok mobilnya juga kok berubah jadi warna coklat ya? Setir mobilnya juga kok ini warna polkadot merah?” Seketika aku pun kaget, 

“Aduh, jangan bilang kalau sekarang aku salah masuk mobil!” gumamku.

Akupun segera keluar membuka pintu, dan betapa kagetnya aku karena di depan pintu ada seseorang yang melihatku dengan tatapan aneh hingga banyak orang yang melihat ke arahku. Aku pun buru-buru turun dari mobil tanpa berucap kata pada orang itu. Meski aku juga sempat berfikir kalau orang itu adalah pemilik mobil yang aku naiki barusan, aku tetap berjalan menjauh dari mobil itu. Dan akupun menyadari penuh bahwa aku baru saja salah masuk mobil. Karena memang pelat nomornya berbeda, sedangkan mobil aku sendiri tepat berada disebelahnya. Tanpa menunggu lama aku pun langsung masuk ke mobil yang sebenarnya dengan pelat nomor yang aku ingat, dan di dalam sudah ada ayah, ibu dan Kak Ray yang tengah menungguku.

“Defina dari mana aja? Bukannya tadi kamu udah duluan naik mobil? Tapi kok sekarang pas ibu ke mobil kamu malah belum ada.” Tanya ibuku dengan raut keheranan.

“Engga bu, tadi cuma abis liat-liat taman aja.” Jawabkku sedikit menahan malu.

“Yang bener kamu?” kata ibuku dengan raut seakan mengetahui apa yang terjadi.

“Hehe, sebenarnya tadi aku baru saja mengalami hal yang memalukan sekaligus menegangkan. Tadi kan aku sendirian jalan ke parkiran, terus aku naik ke mobil yang kukira itu adalah mobil ayah, karena memang bentuk dan warnanya sama persis. Tapi, begitu aku duduk aku merasa aneh dengan jok yang berwarna coklat, sehingga aku langsung keluar mobil dengan wajah gugup penuh ketegangan karena takut dikira maling. Dan ketika aku turun orang-orang menatapku dengan tatapan aneh. Namun aku segera lari kesini.”

“Hahahhaha… kok bisa gitu sih? Aneh deh kamu tuh! Dari kemaren galfok mulu!” ungkap Kak Ray sambil menertawai kejadian yang aku alami.

“Aku juga gatau, lagian mobilnya gak dikunci sama orangnya, jadi kan gini.” Jawabku tambah malu.

“Ya udah yang penting sekarang sudah selamat dan aman kan? Nanti lain kali kalau apa-apa itu harus fokus dan teliti, supaya gak salah masuk lagi.” Tumpas ayahku.

Kami pun melanjutkan perjalanan, hingga akhirnya kami tiba di rumah pukul sepuluh malam dengan selamat.

#MenulisCerpen
#PenggalanKata
#CeritaPendek

Comments

Popular posts from this blog

Mungkin Kita Pernah Kecewa?

Film Negeri 5 Menara Full Series 2019

Jargon Daarut Tauhiid