Cinta Dibalik Amarah Sang Ayah



Di hari Minggu. “Alhamdulillah! Sekarang waktunya rebahan dulu nih sebentar, sebelum lanjut! Huhuy!!!.” Ungkapan lega yang terucap dari mulutku setelah mempersiapkan laptop diatas meja belajar kemudian berjalan menuju ke kasur sambil tiduran main hp streaming youtube. Saat itu konten berbagai channel yang aku lihat sangat berbeda dari biasanya, sebuah hal yang polemik dan menjadi viral yaitu tentang penggunaan kata “4nj4!”. Para influencer, selebram, artis, bahkan tokoh agamapun acap kali ikut mengomentari terkait hal tersebut, ditambah pula berbagai perkataan pedas dan ngawur bertebaran dikolom komentar yang dilontarkan oleh para netizen yang maha benar. 

Tak lama kemudian tiba-tiba datang terdengar suara dari kejauhan yang suaranya semakin dekat berhembus seperti angin (euumm… engg… husss…) suara AC mobil yang sudah tidak asing terdengar ditelinga dan tiba berhenti di garasi depan rumahku. Dan benar saja ayahku sudah datang. 

Ayah    : “A... Aa…!!! sini dulu!” (sambil berteriak sangat kencang bagai berada di tengah lapang bola)! Ucap ayah memanggilku.

Aku    : “Iya ayah, ada apa?” sahutku dengan suara teriak kembali (pita suara dileher seakan terasa bergetar dan panas).

Ayah    : “Tolong ambilkan ember yang berisi air sama lap dan juga gayung kesini, sekarang!” teriaknya.

Sudah ku duga, benar saja ketika ayah memanggilku pasti ayah akan menyuruh untuk melakukan sesuatu. Padahal saat itu aku baru saja selesai membersihkan ruangan – ruangan dan seisi rumah atas perintah dari ibuku. Dan tadinya juga setelah rebahan sebentar ini, aku mau melanjutkan project naskah tadi malam (projek menulis yang dilakukan oleh seorang penulis pemula). Baru saja aku tiduran dan peregangan eh udah disuruh lagi, kalau udah gini pasti harus lembur lagi malam ini jadinya, karena sebagian motivasiku sudah hilang untuk melanjutkan projek. Aku tau bahwa disini aku adalah anak laki-laki satu-satunya dari 3 bersaudara, karena kakak dan adikku perempuan. Sekarang mereka tidak ada di rumah. Kakakku sudah menikah dan sekarang tinggal bersama suaminya dan adikku sedang mondok di pesantren. Dan setiap kali ayah begitu, hal itu selalu membuat aku merasa tidak nyaman dirumah ini. Terkadang aku ingin cepat berangkat keluar kota untuk menenangkan pikiran ini dan mendapati nutrisi baru.

Sambil berjalan membawa ember berisi air penuh ke depan, aku melihat sebuah pemandangan yang cukup mengerikan tepat di berada di depan mata. Dalam pikiranku pantas saja ayah menyuruhku membawa alat-alat ini, ternyata mobil ayah sangat belepotan (sangat kotor) dan ini pasti ayah memintaku untuk membersihkannya.

Aku    : “Ini ayah.”

Ayah    : “Coba bantu ayah untuk mencuci mobil ini! Tadi di perjalanan ayah ngebut dan hujan besar dan untungnya datang kesini tidak keburu sore. Ayo sekarang mulai bersihkan! Sabunnya mana kok ga dibawa? Inikah mobilnya kotor harus pakai sabun biar mengkilap!” (ucap ayah dengan nada tinggi sambil menyalahkan).

Aku    : “Tadi ayahkan…” (dalam benakku padahal yang aku dengar tadi ayah menyuruhku hanya mengambil ini saja, tidak berikut sabun).

Ayah    : “Sudah jangan banyak komentar! ambilkan dulu sana!” sambil mengerutkan kening dan dengan tatapan matanya yang tajam ke arah kedua mataku.

Aku : (Tubuhku bergegas berdiri dan mau masuk kedalam rumah).

Ibu    : “Nih a, kata ibu juga tadikan disuruh dibawa juga sabunnya, jeh!” Sahut ibu, berjalan menghapiriku dari arah pintu rumah sambil memberikan sabun.

Ayah    : “Nah, iya itu ambil!” tangannya menunjuk ke sabun yang dipegang oleh ibu.

Saat itu diriku semakin terpojok, seakan semuanya salahku. Sama seperti halnya kejadiaan saat itu aku tidak sengaja menendang bola ke arah wajah adikku ketika saat itu adikku masih kecil berumur sekitar 3 tahun kita bermain bersama di halaman rumah. Walau kejadian saat itu merupakan ketidaksengajaan, namun tetap saja ayah menyalahkanku dan semuanya juga menyalahkanku, karena kata ayah menjadi seorang kakak itu harusnya aku bisa menyenangkannya dan mengajaknya bermain dengan benar bukan malahh membuat adiknya menangis. Beberapa waktu lalupun aku kesal ketika aku sedang diajari naik mobil oleh ayah, walau sebenarnya aku tau sifat ayah, ayah mengajariku menyetir sambil bernada tinggi dan marah, ayah menjelaskan bahwa “Mengendarai mobil itu utamanya kita harus relax harus dinikmati tidak usah tegang, baik itu di jalanan sepi maupun disituasi ramai, jangan sampai membahayakan atau membingungkan kendaraan lain, sama aja seperti naik motor gimana sih! Lihat ayah kalau ayah lagi nyetir mangkanya!”. Dan dalam pikiranku, “Bagaimana bisa tenang dan menikmati semua ini semisal ayah terus saja berbicara sepanjang perjalanan dan membuat aku kesal!”.

Terkadang aku pun mendengar ayah selalu bernada tinggi ketika sedang berbicara dengan ibu, baik itu masalah kecil maupun besar. Dan seringkali ibu yang disalahkan. Padahal tidak setiap kesalahan ibu yang melakukan. Hanya saja ayah jarang sekali introspeksi diri apa dan kenapa, diajak diskusipun seolah hanya pendapatnya sendiri saja yang harus didengar, seolah pendapat lainnya itu tidak berguna. Namun disini ibu sering pula menjelaskan bahwa kita itu senantiasa sabar untuk mengikuti kemauan ayah, karena apapun itu pasti memiliki makna dan pembelajaran yang ayah berikan. Ayah memang memiliki sifat ego yang tinggi, sehingga setiap kali ada kemauan pasti ingin selalu dilakukan dan dituruti, setiap kali ada yang dianggap itu tidak selaras atau salah pasti hal tersebut dibenarkan bahkan dilarang, jangan terlalu sering pulang malam, jangan terlalu sering main, jangan suka ngebut, dll. Di situasi lain sering pula ayah mengajari bagaimana seseorang harus tau dalam segala hal walau kita bukan bidangnya sekalipun, minimal kita tau dasarnya sebab itu akan berguna kelak kedepannya, seperti bagaimana cara memberbaiki lampu yang mati, genteng yang bocor bahkan masalah untuk memahami kendaraan sekalipun. Sering pula ayah berkata kepada ibu bahwa sebetulnya ayah sangat sayang kepada keluarga terutama anak-anaknya. Hanya saja memang caranya yang berbeda, sekalipun dicoba untuk lembut namun karakternya memang sudah begitu. Nada tinggi bukan berarti marah, hal itu adalah tegas dan ayah selalu mengajarkan bagaimana disiplin. Aku disini dilahirkan seorang anak laki-laki satu-satunya, hal ini merupakan salah satu invest terbesar dan tanggung jawab untuk dikemudian hari, terlebih ketika sudah berumah tangga, melindungi orangtua, istri, saudara-saudara perempuan kakak dan adik serta keluarga besar nantinya yang harus dijaga.

Terngiang dipikiranku oleh salah seorang ulama, beliau adalah Imam Syafii yang ditinggal ayahnya saat usia 2 tahun, kemudian ia dibesarkan oleh ibunya dalam keadaan yatim. Dalam menjalani hidupnya ia selalu bersyukur, bersabar, bersemangat dan pantang menyerah. Dan bahkan ulama lain pun banyak yang tidak merasakan kasih sayang seorang ayah, Imam Hanbali yang ditinggal ayah dari sejak bayi, Imam Ibnu Katsir yang ditinggal saat berusia 2 tahun, Imam Al-Bukhori ditinggal sewaktu kecil, dsb. 

Aku percaya apa yang dikatakan ibu bahwa setiap ayah pasti menginginkan anak-anaknya tumbuh dewasa menjadi seseorang yang terbaik dan bisa berguna, terutama untuk keluarga tercinta. Dan kasih sayang orangtua tidak akan mungkin terkikis, termasuk ayah.

“Aa! Ayah mau mandi dulu ya, mobilnya lap yang bersih! Terus nanti pake lap kering juga kalau sudah beres! Jangan lama-lama ngelapnya, keburu sore!” Teriak ayah (kemudian pergi masuk kedalam rumah)

Aku : “Iya, siap ayah” jawabku.

Ibu : (tersenyum seolah memberikan semangat dan ketegaran).

#KasihAyah
#AyahTercinta
#CerpenAyah

Comments

Popular posts from this blog

Mungkin Kita Pernah Kecewa?

Film Negeri 5 Menara Full Series 2019

Jargon Daarut Tauhiid