Sedang Tidak Memiliki Uang dan Orang Pelit

Bismillah…,
Suatu hari seseorang bernama sebut saja Rey biasa jadwal pergi ke kantor seperti biasanya. Di pagi hari yang terasa angin terus bertium kencang layaknya kipas angin yang memutar dan menghembuskan anginnya tepat pada sekujur tubuh, sehingga memberikan efek yang begitu semakin merapatkan selimut diatas kasur yang terbuat dari kapuk.

Setiba dikantor sekitar 1 jam setelah aku siap-siap tadi, ku biasa membuka media sosial Instagram dan whatsapp sebelum memulai pekerjaan, walau kondisi laptop sudah standby dan menyala bertanda sudah ready untuk dipakai, hal ini dibertujuan untuk mengumpulkan energi dan pikiran agar bisa lebih fresh dari segala masalah yang ada dirumah dan diluar sana. 

Semua pekerjaan sedikit demi sedikit sedang dikerjakan dengan santai sambil menikmati lagu-lagu islami yang sedang diputar. Tak terasa waktu dzuhur pun telah tiba dan segera menunaikannya. Aku kembali melanjutkan pekerjaan tadi setelah selesai istirahat, shalat dan makan. Tak lama kemudian pimpinan pun datang, ia biasa datang dipertengahan hari atau terkadang juga pagi sebelum pergi keluar. Tamu keluar masuk datang pergi berbagai kebutuhannya datang ke kantor. Sekitar menjelang ashar tugas tambahan tertuju pada ku yaitu untuk pergi ke luar kota dengan menjalankan suatu misi. Sempat bingung apa yang harus aku lakukan nanti, disisi lain ini menjadi moment untuk bisa pergi represhing dan menghirup udara luar kota yang sudah lama tidak tercium beda, tentu ini menjadi hal yang baik untuk ku.

Dua hari kemudian, tiba saatnya untuk pergi menjalankan tugas, dan berbagai hikmah yang aku temukan dari sini. Seringkali berpikir begitu banyak aktifitas orang-orang diluar sana, salah satunya adalah supir travel yang dengan begitu ramah kesetiap penumpang, walau terkadang celotehannya suka membuat kontro versi dengan seorang partner kneknya, baik dari segi ucapan maupun sindiran. Aku anggap begitulah ketika suatu hubungan yang bisa dikatakan sama-sama akrab. Hal ini membuat ingatanku dulu sebelum bekerja, begitu rindunya sahabat-sahabat yang sekarang jarang bertemu bahkan bercanda, walau ada media smartphone, komunikasipun mulai jarang.AllahuAkbar beginilah hidup, semua yang kita lakukan pasti ada masanya.Ditambah suasana indahnya malam dengan keramaian kota mengingatkanku kepada kota priangan jawa barat.Saat ini ku seperti ini, merupakan manusia biasa, namun ku yakin dalam segera ku akan gapai mimpi ku tuk kembali ke kota tersebut walau untuk berkontribusi atau bahkan berkolaborasi menciptakan sebuah elemen bisnis baru yang aku rangkai.

Sampai pada tempat yang dituju, ku segera bergegas dan merapikan semua barang yang dibawa, dengan segala penyambutan dan penerimaan yang begitu ramah membuat rasa Lelah ini menjadi kembali bersemangat dalam bertugas. Istirahat sejenak ku lakukan agar bisa mengikuti alur kegiatan disini. Ada hal menarik disini, kami mencoba saling berinteraksi untuk saling mengenal siapa aku dan siapa penghuni rumah ini. Lalu pembicaraan mulai ngaler ngidul sehingga sampai pada pembahasan amal ibadah. Disana aku mendapati nasihat seperti ini jangan pernah merasa minder hanya karena bukan luluan pesantren, minder karena ilmu agama, sebab yang namanya ilmu agama bisa kita pelajari. Yang terpenting adalah kita terus berusaha, berani dan terus belajar, belajar dari buku, media dan terpenting kita jangan malu bertanya kepada seseorang yang memiliki ilmu yang lebih tinggi dari kita. Kenapa demikian? Karena sesungguhnya itu sangatlah penting. Karena jujur saja, yang namanya kebahagiaan itu tidak dapat diukur dengan persoalan materi, tapi yang paham agamalah yang membuat diri kita lebih berarti dan lebih Bahagia. Adapula seseorang bisa mengatakan barang itu disebut mahal atau tidaknya karena seseorang itu memiliki 2 (dua) tipe, yang pertama bisa jadi orang itu memang benar-benar tidak memiliki uang sehingga belum mampu untuk mendapatkan barang tersebut, serta yang kedua bisa jadi orang tersebut memang adalah orang yang pelit, yang nggan memberi terhadap orang lain, orang yang itung-itungan terhadap segala hal, takut akan kekurangan hartanya, padahal kita tahu bahwa Allah maha kaya, Allah-lah yang mengkayakan.

Perbincangan Rey dengan bapak tersebut setidaknya memberikan hikmah terhadap kita, kenapa kita masih itung-itungan padahal Allah saja tidak pernah perhitungan terhadap kita, berapa tabung gas yang diperlukan kita agar kita bisa bernafas setiap waktu dalam sehari, berapa kata yang kita lafalkan dalam setiap perkataan per hari, dan masih banyak lagi yang tidak bisa kita perhitungkan. Selagi kita mampu sesuai dengan kebutuhan apa yang dibutuhkan, selagi ada yang membutuhkan, dan saling membantu antara satu sama lain percayalah bahwa ada Allah SWT bersama kita. Mudah-mudahan Allah senantiasa memberkahi kita semua dan memudahkan kita untuk terus berada dalam kebaikan., Aamiin…,


#MintaAjaSamaAllah
#AllahduluAllahLagiAllahTerus

Comments

Popular posts from this blog

Film Negeri 5 Menara Full Series 2019

Mungkin Kita Pernah Kecewa?

Jargon Daarut Tauhiid